Usaha Ternak Galo Galo Mulai Diminati Warga Ampingparak

- Penulis

Selasa, 28 Juni 2022 - 09:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Painan, Suaramitra.com-Usaha ternak galo-galo rimbo (trigona sp) mulai diminati masyarakat di Amping Parak Kecamatan Sutera Kabupaten Pesisir Selatan Provinsi Sumatera Barat. Usaha lebah madu trigona ini tidak memakan tempat yang luas dan bisa dijadikan sebagai usaha rumahan.

Irul (40) salah seorang petani usaha lebah madu trigona menyebutkan, usaha lebah madu trigona bila dilaksanakan secara baik sangat menguntungkan. Bahkan, usaha ini bisa di andalkan sebagai usaha utama keluaraga.

“Saat ini saya baru memulai usaha ternak lebah trigona atau dalam bahasa kampungnya galo galo rimbo, dan dari beberapa kali panen bisa dikembangkan untuk usaha lebih besar,” katanya.

ADVERTISEMENT

Pasisia Rancak

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurutnya, usaha ternak lebah trigonanya dilaksanakan hanya di samping belakang rumah. “Saya tidak memanfaatkan lahan yang luas. Satu kali panen dalam satu sarang bisa dapat sekitar 250 ml dengan harga yang cukup baik,” katanya.

Cara Budidaya

Menurut Irul, budidaya trigona hitam dimulai dengan mencari sarang trigona dari alam. Lebah trigona hitam ini hidup di pohon jengkol dan pohon durian.

“Ada cara khusus untuk mengetahui sarang trigona telah berisi dan layak untuk dijadikan bakalan. Misalnya mulai dari mengetahui pintu atau tempat masuk lebah hingga jalur ke tempat penyimpanan madu,” katanya.

Suara juga  Ucapkan Selamat Hari Jadi Ke-75 Pessel, Bakri Maulana : Untuk Bangkit, Pemkab Pessel Lebih Berdayakan Masyarakat

Kemudian, setelah dipastikan sarang berisi, maka pohon dipotong sesuai dengan jalur dalam sarang, dan inilah yang dibawa pulang untuk dijadikan bakalan. “Bisanya memotong pohon jengkol yang berisi trigona dilakukan saat sore hari, karena sore hari seluruh lebah trigona telah masuk ke dalam sarang. Jadi tidak ada seekorpun lebah tertinggal di luar,” katanya.

Lalu hal yang perlu diketahui adalah soal lokasi. Lokasi ternak lebah trigona yang perlu diperhatikan menurutnya adalah jauhkan dari sarang walet, karena walet salah satu predator trigona. Kemudian yang ke dua jauhkan dari lahan pertanian yang menggunakan pestisida, karena trigona bisa punah karena pestida. Jarak dari sarang walet dan perkebunan yang menggunakan pestisida lebih dari satu kilometer.

“Kemudian saat kita beraktifitas di sarang lebah trigona terutama saat panen madu trigona, pastikan pakaian kita tidak berwarna gelap. Disarankan warna pakaian putih atau kuning, karena lebah trigona suka hinggap pada benda berwarna hitam,” katanya.

Debutkan Irul, saat penangkaran, sarang trigona akan berkembang sesuai dengan pertambahan populasinya, demikian seterusnya. Setelah berkembang maka sarangnya bisa ditambah pula untuk meningkatkan produksi madu trigona. “Jika syarat-syarat utama usaha ternak lebah trigona dipenuhi, maka usaha ini dapat diwariskan turun-temurun,” ungkap Irul.

Suara juga  Kodim 0311 Bakal Tanam Mangrove di Amping Parak

Seperti diketahui, dewasa ini banyak daerah di Indonesia yang cocok di jadikan sebagai daerah pengembangan budidaya lebah madu. Lebah seperti organisme lain sangat di pengaruhi oleh keadaan lingkungan di sekitarnya. Faktor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi meliputi faktor biotik dan abiotik yang secara langsung maupun secara tidak langsung mempengaruhi aktifitas hidup, keadaan makanan di alam dan perkembangan populasi lebah, semakin banyak jenis tanaman semakin banyak populasi jenis lebah yang akan berkembang (Kurniawati, 2004; Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi, 2015).

Indonesia memiliki beberapa jenis lebah penghasil madu, antara lain Apis cerena, Apis dorsata, Apis hoshevinihovi, Apis migrocincita, Apis florae, Apis nullensis, dan Apis mellifera. Jenis lebah
yang paling banyak dimanfaatkan masyarakat adalah Apis cerena (lebah lokal), Apis mellifera (lebah Eropa), Apis dorsata (lebah hutan) dan Apis Trigona sp (Samadi, 2004; Agrowindo,2015).(SM)

Facebook Comments

Berita Terkait

Dr. Silvia Permata Sari S.P., M.P Sosialisasikan Pengolahan Limbah Domestik Jadi Kompos di Nagari Kamang
Unand Gelar Penyuluhan dan Pengobatan Ternak Kerbau di  Lombah, Sungai Rimbang, Suliki
Forum Pengurangan Risiko Bencana Amping Parak Dilantik
Datuak Panghulu Sikumbang Nagari Kambang Edison Rj Indo Hadiri Batagak Gala Datuak Putiah
Bakri Maulana, Bacabup Pessel: Saatnya Rest Area Perbatasan Pessel-Padang Lebih Representatif dan Bersih
Muhammadiyah Cabang Kambang Gelar Muscab Terpadu
Harimau Sumatera Menampakkan Diri di Kulam
Destana Amping Parak Kumpulkan Data Ketangguhan Desa
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 28 Februari 2024 - 15:48 WIB

Doktor Silvia Permata Sari: Bahagianya Panen Cabai Hasil Tanam Sendiri!

Senin, 26 Februari 2024 - 12:47 WIB

Pestisida Nabati dari Tanaman Mimba (Azadirachta indica)

Sabtu, 24 Februari 2024 - 13:12 WIB

HAMA TANAMAN GANDUM (Tritivum aestivum)

Jumat, 23 Februari 2024 - 13:17 WIB

MENGENAL PUPUK HIJAU DARI TUMBUHAN SEKITAR KITA

Kamis, 22 Februari 2024 - 13:22 WIB

TUMBUHKAN JIWA BERTANI ORGANIK DI PANTI ASUHAN AL HIDAYAH, KURANJI, KOTA PADANG

Rabu, 21 Februari 2024 - 10:23 WIB

HAMA TANAMAN MANGGA (Mangifera indica) DAN CARA PENGENDALIANNYA DENGAN PESNAB BAWANG PUTIH

Selasa, 20 Februari 2024 - 10:27 WIB

Doktor Muda Hama dan Penyakit Tanaman Unand Bina KWT Desa Punggung Lading, Kota Pariaman

Senin, 19 Februari 2024 - 10:15 WIB

TEKNOLOGI PESNAB DARI TUMBUHAN SIRSAK (Annona muricata L) DAN  TEMBAKAU (Nicotiana tabacum)

Berita Terbaru

Artikel

Pestisida Nabati dari Tanaman Mimba (Azadirachta indica)

Senin, 26 Feb 2024 - 12:47 WIB