37 PEJUANG GUGUR, PEKALONGAN MEMBARA! TEATRIKAL KOLOSAL 3 OKTOBER 1945 GETARKAN MONUMEN JUANG
10/3/20262 min read


Suasana upacara peringatan Pertempuran 3 Oktober 1945 di Monumen Juang 45 Pekalongan, Sabtu malam (3/10/2026), berlangsung khidmat dengan dihadiri Forkopimda dan ribuan warga. (Foto: Sutanto Hadi / Suara Mitra News)
PEKALONGAN, Suara Mitra News – Sabtu (3/102026) – Peringatan Peristiwa Pertempuran 3 Oktober 1945 kembali digelar di kawasan Monumen Juang 45 Pekalongan, Sabtu malam, 3 Oktober 2026. Kegiatan berlangsung khidmat dan meriah dengan dihadiri jajaran Forkopimda, TNI dan Polri, serta ribuan masyarakat yang memadati kawasan monumen.
Rangkaian kegiatan diawali dengan upacara resmi di kawasan Monumen Juang. Dalam upacara tersebut, kembali dibacakan kisah singkat perjuangan rakyat Pekalongan dalam peristiwa 3 Oktober, sebagai pengingat bagi generasi sekarang tentang pengorbanan masyarakat dalam mempertahankan kemerdekaan.
Suasana semakin khidmat ketika seluruh peserta mengikuti penghormatan dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Usai upacara, rangkaian peringatan dilanjutkan dengan pemadaman lampu di sekitar kawasan monumen selama beberapa saat. Suasana gelap tersebut menjadi bagian dari refleksi untuk mengenang kembali suasana perjuangan pada masa lalu.
Puncak kegiatan kemudian diisi dengan teatrikal drama kolosal yang menggambarkan kembali kisah perjuangan masyarakat Pekalongan. Sekitar 100 pelajar dan anggota komunitas seni Pekalongan tampil dalam pertunjukan yang berada di bawah arahan Sidiq Anaja selaku koreografer.


Adegan teatrikal kolosal menggambarkan perjuangan rakyat Pekalongan dalam mempertahankan kemerdekaan. Pertunjukan melibatkan 100 pelajar dan komunitas seni di bawah arahan Sidiq Anaja. (Foto: Sutanto Hadi / Suara Mitra News)
Konsep pertunjukan tahun ini tetap mempertahankan kisah utama Pertempuran 3 Oktober. Peragaan tempur menggunakan replika persenjataan. Efek ledakan dan suara letusan tetap dihadirkan sebagai bagian dari dramatisasi pertunjukan.
Sidiq Anaja mengatakan, konsep pertunjukan secara keseluruhan masih mempertahankan pesan perjuangan yang sama.
"Konsep pertunjukan ini sebenarnya masih utuh, sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Kita tetap mengenang peristiwa pertempuran itu. Meskipun diringkas menjadi kurang lebih 20 menit, pesan perjuangannya tidak dikurangi. Jumlah peserta kali ini sekitar 100 orang, terdiri dari pelajar dan komunitas seni Pekalongan. Harapan saya, semoga pertunjukan ini menjadi refleksi kita bersama. Bahwa dulu leluhur kita berjuang luar biasa: tokoh pemuda, tokoh ulama, masyarakat umum, semua menyatu berjuang bersama mengusir penjajah. Semangat persatuan itulah yang paling berharga untuk kita wariskan," ujar Sidiq.
Peristiwa 3 Oktober merupakan momen heroik masyarakat Pekalongan menyambut proklamasi kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, dimana terjadi upaya pengambil alihan kekuasaan dari tangan Jepang di Kota Pekalongan.
Sebanyak 37 pejuang masyarakat Kota Pekalongan gugur dan 12 luka-luka dalam pertempuran 3 Oktober 1945 silam.
Peristiwa tersebut dikemas dalam bentuk drama atau teatrikal kolosal yang diperankan oleh ratusan pelajar dan masyarakat di Kota Pekalongan pada puncak peringatan 3 Oktober yang berlangsung di Kawasan Monumen Djoeang 45 Kota Pekalongan, Sabtu malam (3/10/2026).
Selain menjadi ruang mengenang sejarah, peringatan ini juga memberikan dampak ekonomi bagi warga sekitar. Keramaian dimanfaatkan pedagang makanan, minuman, hingga kipas bambu dan plastik yang banyak diburu warga.
Semangat persatuan yang ditunjukkan para pejuang diharapkan tetap menjadi nilai yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Reporter: Sutanto Hadi
Editor: Redaksi Suara Mitra News
#Pekalongan #Pertempuran3Oktober #MonumenJuang45 #SejarahPekalongan #TeatrikalKolosal #HariJuang
