Hadapi El Nino Godzilla, Petani Alpukat di Pekalongan Siapkan Penampungan Air hingga Kolam Ikan

7/14/20262 min read

KAJEN – Suara Mitra News - Petani alpukat di Kabupaten Pekalongan mulai melakukan berbagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau yang diperkirakan dipengaruhi fenomena El Nino Godzilla. Salah satunya dilakukan Hartanto, petani alpukat asal Desa Legokkalong, Kecamatan Karanganyar, dengan menyiapkan cadangan air untuk menjaga kebutuhan tanaman selama musim kering.

Saat ditemui di kebun alpukat miliknya, Selasa (14/7/2026) sore, Hartanto mengatakan ketersediaan air menjadi faktor paling penting dalam menjaga pertumbuhan tanaman, terutama bibit alpukat yang masih berusia di bawah satu tahun. Sebagai langkah antisipasi, ia membuat penampungan air berkapasitas sekitar 1.000 liter. Penampungan tersebut diisi dari air hujan yang ditampung saat musim penghujan, serta air dari jaringan Pamsimas yang dialirkan secara bertahap pada malam hari agar lebih hemat penggunaan.

"Ketika beberapa bulan lalu masih sering hujan, sebagian air hujan kami tampung. Selain itu, air dari Pamsimas juga kami sisihkan sedikit demi sedikit untuk cadangan penyiraman tanaman," ujar Hartanto. Air yang terkumpul kemudian dialirkan ke kolam ikan sebelum dimanfaatkan untuk menyiram tanaman. Menurutnya, sistem tersebut tidak hanya menjaga ketersediaan air, tetapi juga mendukung budidaya ikan sebagai bagian dari pertanian yang terintegrasi.

Hartanto, petani alpukat asal Desa Legokkalong, Karanganyar, Pekalongan, menunjukkan bak penampungan air 1000 liter untuk antisipasi El Nino, Selasa (14/7/2026). Foto: Dok.Suara Mitra News

Saat ini Hartanto mengelola sekitar 100 pohon alpukat yang tersebar di lahan seluas kurang lebih 1,5 hektare. Ia mengakui ancaman terbesar saat musim kemarau adalah kekeringan yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman bahkan menurunkan produktivitas buah.

"Kalau pohon yang sudah besar, dampaknya ke produktivitas buah. Tapi kalau tanaman yang masih kecil, pertumbuhannya bisa terhambat, bahkan bisa mati kalau kekurangan air," katanya.

Pengalaman menghadapi El Nino pada 2024 hingga 2025 menjadi pelajaran berharga baginya. Saat itu, sebagian tanaman muda mati akibat minimnya persiapan menghadapi musim kemarau panjang.

Belajar dari pengalaman tersebut, Hartanto berencana menambah kapasitas penampungan air sekitar 2.000 liter agar kebutuhan penyiraman tanaman dapat lebih terjamin selama musim kemarau.

Ia juga mengajak sesama petani memanfaatkan musim penghujan untuk menyiapkan cadangan air sejak dini.

"Kalau masih banyak air, gunakan sebijak mungkin dan siapkan bak-bak penampungan. Penampungan itu juga bisa dimanfaatkan untuk memelihara ikan, jadi bukan hanya menjadi cadangan air, tetapi juga bagian dari sistem pertanian yang terintegrasi," pungkasnya.

(Ali R/hs.red.14.7/Suaramitranews)

ANALISIS & PANDANGAN JURNALIS DAERAH

Fenomena El Nino Godzilla bukan lagi isapan jempol. Dampaknya langsung dirasakan petani, terutama tanaman hortikultura seperti alpukat yang butuh air konsisten. Langkah Hartanto di Legokkalong ini bisa jadi contoh baik. Ada 3 poin penting: Pertama, menampung air hujan saat melimpah.

Kedua, memanfaatkan Pamsimas secara hemat dan terjadwal.

Ketiga, mengintegrasikan bak air dengan kolam ikan agar punya nilai ekonomi ganda. Pengalaman gagal panen 2024-2025 menjadi guru terbaik. Ini membuktikan bahwa adaptasi iklim harus dimulai dari tingkat petani. Pemerintah daerah dan penyuluh pertanian perlu mendorong lebih banyak petani membuat resapan dan penampungan air sederhana. Di tengah ancaman perubahan iklim, kesiapan sekecil membuat bak 1000 liter bisa menyelamatkan 100 pohon dan mata pencaharian satu keluarga.

Disusun oleh Tim Redaksi Suara Mitra News

Redaksi suaramitranews

Kontak kami untuk informasi dan kerjasama

Email

Telepon

suciono@suaramitra.com

085741995002

© 2026. All rights reserved.

suaramitra2@gmail.com

Info Iklan