HARLAH KE-6 PONPES AL-ISTIQOMAH CILACAP DIPENUHI HIKMAH, DPC LSM HARIMAU PERKUAT SILATURAHMI

10/21/20263 min read

DPC LSM Harimau saat silaturahmi dan sarasehan bersama Pengasuh Ponpes Salafiyah Al-Istiqomah KH. Zainal Mustofa (kedua dari kiri) di sela Harlah ke-6 dan Hari Santri Nasional di Cilacap, Selasa (20/10/2026). – (Foto: Suara Mitra News)

CILACAP, Suara Mitra News - Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional dan Harlah ke-6 Pondok Pesantren Salafiyah Al-Istiqomah, DPC LSM Harimau Kota Pekalongan menghadiri undangan pengajian akbar yang digelar di Cilacap, Selasa (20/10/2026).

Acara pengajian akbar tersebut diisi dengan rangkaian doa bersama, tausiah oleh Ustadzah Afifatur Rohmaniyah (Afi Indosiar), serta tausiah dan doa penutup oleh Ustadz Wildan Purna Irawan, S.Ag., Pengasuh Ponpes Nurul Bahar Wa Nashor Pekalongan.

Usai acara, DPC LSM Harimau melanjutkan kegiatan dengan silaturahmi dan sarasehan bersama di kediaman Pengasuh Ponpes Salafiyah Al-Istiqomah, KH. Zainal Mustofa.

Tujuh Tahun Berdiri, Fokus Cetak Dai Muda

Dalam sarasehan tersebut, KH. Zainal Mustofa menjelaskan, Ponpes Salafiyah Al-Istiqomah berdiri sejak tahun 2019, bertepatan dengan masa pandemi Covid-19.

Visi dan misi pondok adalah penguatan aqidah Islamiyah, pendidikan formal, serta penguasaan kitab kuning dan pelatihan dakwah.

Salah satu bukti keberhasilan metode tersebut adalah lahirnya sejumlah dai muda, diantaranya Ustadzah Mumpuni dan Ustadzah Afifatur Rohmaniyah (Afi Indosiar) yang turut menjadi pembicara dalam acara tersebut. KH. Zainal menyebut, keduanya merupakan santri yang sejak awal dilatih kemampuan pidato dan dakwah.

350 Santri Mukim dari Berbagai Daerah

Saat ini, Ponpes Salafiyah Al-Istiqomah menampung sekitar 350 santri putra dan putri mukim yang berasal dari Cilacap, berbagai kabupaten di Jawa Tengah, hingga luar Pulau Jawa.

Ponpes menganut filosofi pendidikan berjenjang: Santrinya S1, Kiai S2, dan Ponpes S3. Hal tersebut disampaikan oleh Gus Alwi, putra pengasuh yang pernah menimba ilmu selama enam tahun di Kendal.

"Artinya, santri didorong untuk menempuh pendidikan tinggi formal sambil tetap mendapatkan barokah pesantren," jelas Gus Alwi.

Selama tujuh tahun berdiri, ponpes telah meluluskan santri yang kini mengabdi di berbagai daerah seperti Riau, Sragen, Pekalongan, dan menjadi pengasuh pondok, termasuk Ustadz Wildan Purna Irawan yang juga menjabat sebagai Ketua PAC LSM Harimau.

Tradisi Ijazah dan Pembinaan Majelis

Dalam kesempatan itu, Ustadz Wildan Purna Irawan, S.Ag., yang merupakan murid KH. Zainal Mustofa, menceritakan sanad keilmuannya. Ia pernah mendapatkan ijazah di Padepokan Blambangan Kuripan Pekalongan pada tahun 2020 dari KH. Zainal Mustofa.

Barokah dari ijazah tersebut, majelis binaan yang ia asuh telah berjalan selama lima tahun dengan santri dari berbagai latar belakang, termasuk pembinaan mantan anak jalanan dan anggota LSM Harimau.

DPC LSM Harimau bersama Pengasuh Ponpes Salafiyah Al-Istiqomah KH. Zainal Mustofa (tengah) foto bersama santri perguruan pencak silat binaan ponpes usai pengajian Harlah ke-6 dan Hari Santri Nasional di Cilacap, Senin (20/10/2026). (Foto: Suara Mitra News)

Edukasi untuk Masyarakat: 5 Kunci Kebahagiaan Santri

Sebagai edukasi bagi orang tua yang ingin memondokkan putra-putrinya, KH. Zainal Mustofa menyampaikan pesan keumatan tentang makna menjadi santri.

"Santri itu aslinya adalah amanah, tawadhu, riyadhoh, istiqomah."

Lima kunci tersebut dijabarkan sebagai berikut:

1. Amanah: Menjaga kepercayaan orang tua dan guru.

2. Tawadhu: Memiliki sikap rendah hati dan sopan santun.

3. Riyadhoh: Melatih diri dengan tirakat dan keprihatinan untuk menguatkan jiwa.

4. Istiqomah: Konsisten dalam menjalankan kebaikan.

5. Niat Menjadi Pengganti: Berniat kelak dapat melanjutkan kebaikan guru dan orang tua.

"Santri itu diajari untuk prihatin, tirakat, dan istiqomah agar tetap mempunyai jiwa yang baik. InsyaAllah dengan bimbingan di pesantren, santri akan mendapatkan sa'adah atau kebahagiaan dunia dan akhirat," tutur KH. Zainal Mustofa.

Meluruskan Makna Adab di Pesantren

Menjawab isu yang berkembang di media sosial terkait tudingan feodalisme di pesantren, Gus Alwi dan Ustadz Wildan memberikan klarifikasi.

Menurut Gus Alwi, tradisi seperti menata sandal Kiai, membersihkan ndalem, dan menunduk ketika berbicara dengan guru bukanlah bentuk perbudakan, melainkan wujud adab dan tawadhu santri Nahdlatul Ulama.

"Itu adalah salah satu wujud daripada adab. Ketika ada orang yang lebih tua, ada Kiai, ada guru agama, maka kita harus menanamkan sifat sopan santun dan tawadhu," tegas Gus Alwi.

Ia mengutip dawuh gurunya: "Bakal tak anggap santriku, sopo sing dadi santriku tak doake husnul khotimah."

Mimpi Besar: Marching Band Go to Istana

Dalam sarasehan itu juga disampaikan cita-cita besar Ponpes Salafiyah Al-Istiqomah untuk memiliki perangkat Marching Band.

Tujuannya adalah untuk mewujudkan santri yang intelektual, religius, dan mandiri serta mampu tampil di tingkat nasional hingga internasional.

"Marching band itu lebih viral daripada drum band. Ketika sudah ada, kita bisa tampil di Istana Merdeka, di Monas saat 17 Agustus, bahkan sampai ke negara lain," ungkap Gus Alwi.

Kegiatan silaturahmi ditutup dengan doa bersama untuk keberkahan Ponpes Salafiyah Al-Istiqomah.

Keterangan Kegiatan:

Hari: Selasa, 20 Oktober 2026

Lokasi: Ponpes Salafiyah Al-Istiqomah, Cilacap

Acara: Pengajian Akbar Hari Santri & Harlah ke-6

Narasumber:

1. KH. Zainal Mustofa - Pengasuh Ponpes Salafiyah Al-Istiqomah Cilacap

2. Gus Alwi - Putra Pengasuh

3. Ustadz Wildan Purna Irawan, S.Ag. - Pengasuh Ponpes Nurul Bahar Wa Nashor Pekalongan / Ketua PAC LSM Harimau

Jurnalis: Sugi Nur Zaki.

Editor: Redaksi Suara Mitra News.

Redaksi suaramitranews

Kontak kami untuk informasi dan kerjasama

Email

Telepon

suciono@suaramitra.com

085741995002

© 2026. All rights reserved.

suaramitra2@gmail.com

Info Iklan