

Ketika Mimpi, Alam dan Peringatan Megathrust Mengingatkan Kita untuk Bersiap
9/7/20262 min read
Beberapa hari terakhir saya mengalami mimpi yang terasa sangat nyata. Selama tiga malam berturut-turut, saya melihat gunung-gunung di Pulau Jawa meletus dan menyemburkan material vulkanik ke berbagai penjuru.
Tidak lama kemudian, saya mendapat telepon dari seorang Romo yang berada di Jakarta. Dalam percakapan di grup paguyuban, beliau mengingatkan agar masyarakat tidak mengabaikan ancaman bencana alam, termasuk potensi gempa besar di zona megathrust.
Dua hal tersebut kemudian membuat saya berpikir: apakah mimpi itu hanya bunga tidur, atau sekadar menjadi pengingat bagi kita untuk lebih peduli terhadap kondisi alam dan kesiapsiagaan bencana?
Saya tentu tidak mengatakan bahwa mimpi dapat digunakan untuk meramalkan bencana. Secara ilmiah, tidak ada dasar untuk menjadikan mimpi sebagai peringatan dini gempa atau letusan gunung.
Namun ada satu pesan yang menurut saya sangat penting: kita jangan menunggu bencana datang baru kemudian bersiap.
BMKG telah berkali-kali menjelaskan bahwa zona megathrust merupakan potensi ancaman gempa besar, termasuk di kawasan Selat Sunda dan selatan Jawa. Tetapi BMKG juga menegaskan bahwa informasi tersebut bukan prediksi bahwa gempa besar akan terjadi dalam waktu dekat. Sampai saat ini belum ada teknologi yang mampu menentukan secara tepat kapan, di mana, dan berapa besar gempa akan terjadi.
Artinya, masyarakat tidak perlu panik.
Tetapi tidak panik bukan berarti tidak waspada.
Kita harus belajar dari berbagai bencana yang pernah terjadi. Rumah dan bangunan perlu memperhatikan standar keselamatan. Keluarga perlu mengetahui jalur evakuasi. Masyarakat pesisir harus memahami apa yang dilakukan ketika terjadi gempa kuat dan berpotensi tsunami. Informasi resmi dari BMKG dan PVMBG harus menjadi rujukan utama.
Di sisi lain, kita juga tidak boleh menutup mata terhadap persoalan lingkungan.
Eksploitasi alam secara berlebihan, kerusakan hutan, pembangunan yang mengabaikan tata ruang, pencemaran dan berbagai bentuk perusakan lingkungan merupakan persoalan nyata yang dapat memperbesar risiko bencana dan memperberat dampaknya terhadap masyarakat.
Karena itu, kritik terhadap pejabat dan pengelola negara tetap penting. Korupsi, penyalahgunaan kekuasaan dan perampasan hak masyarakat harus dilawan melalui hukum dan institusi negara, bukan dengan menunggu "hukum alam" menghukum seseorang.
Ada sebuah pesan moral yang patut kita renungkan:
Jangan sampai manusia merasa lebih kuat daripada alam.
Gunung mempunyai proses geologinya sendiri. Lempeng bumi bergerak mengikuti hukum alam. Gempa dan erupsi tidak mengenal jabatan, kekayaan, maupun kekuasaan.
Kalau suatu saat bencana besar benar-benar terjadi, yang paling membutuhkan pertolongan bukan hanya orang miskin. Semua orang bisa terdampak.Karena itu, daripada memperdebatkan kapan "Megathrust akan terjadi", jauh lebih bermanfaat apabila kita bertanya:
Apakah keluarga kita sudah siap?
Apakah lingkungan kita sudah aman?
Apakah pemerintah daerah sudah mempunyai sistem evakuasi yang jelas?
Apakah masyarakat sudah mengetahui sumber informasi resmi ketika bencana terjadi?
Dan yang tidak kalah penting:
Apakah pembangunan negeri ini sudah cukup menghormati alam dan keselamatan rakyat?
Mimpi saya mungkin hanya mimpi.
Pesan Romo saya mungkin merupakan sebuah renungan.
Tetapi ancaman bencana alam memang nyata dan secara ilmiah harus dihadapi dengan ilmu pengetahuan, mitigasi dan kesiapsiagaan.
Maka jangan menunggu tanda terakhir.
Waspada bukan berarti takut. Bersiap bukan berarti percaya bencana pasti terjadi.Mari menjaga alam, mengawasi pemerintah, memperkuat hukum, dan menyiapkan masyarakat.
Sebab ketika bencana datang, yang menyelamatkan manusia bukan kepanikan, melainkan pengetahuan, kesiapsiagaan, solidaritas dan tindakan yang benar.
Oleh: Sutanto Hadi.
Ketua PASFI Kota Pekalongan.
Ketua KFI Kota Pekalongan.


