Seminar Filologi di Pekalongan Kupas Tuntas Jejak Jawa Dwipa dan Validitas Nasab Keturunan Nabi

8/30/20262 min read

Prof. Dr. Manachem Ali saat menjadi narasumber Seminar Nusantara "Filologi Judeo Arab-Jawa" bersama moderator Ribut Achwandi di Masjid Kyai Rogo Panempi, Ketitang Lor, Bojong, Kabupaten Pekalongan, Sabtu (30/08/2026). (Foto: Dok.Suara Mitra News)

Reporter: Sutanto Hadi.

KAJEN, Suara Mitra News- Minggu, (30/8/2026)Seminar Nusantara bertajuk “Filologi Judeo-Arab-Jawa: Menelusuri Keabsahan Keturunan Nabi Ismail Sampai ke Jawa Dwipa atau Nusantara” berlangsung di kawasan Masjid Kyai Rogo Panempi, Ketitang Lor, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan.

Seminar menghadirkan Prof. Dr. Menachem Ali sebagai narasumber utama. Kegiatan ini mendapat antusiasme besar dari masyarakat yang ingin mengetahui lebih jauh tentang sejarah Nusantara, hubungan antarperadaban, serta persoalan nasab melalui kajian filologi dan sumber-sumber tekstual.

"Dalam foto yang diterima redaksi, Prof. Dr. Manachem Ali tampak didampingi moderator Ribut Achwandi, budayawan asal Pekalongan. Seminar berlangsung di panggung yang dihiasi backdrop bertuliskan tema 'Menelusuri Keabsahan Keturunan Nabi Ismail Sampai ke Jawa Dwipa'."

Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Menachem Ali menjelaskan bahwa memahami sejarah masa lalu tidak cukup hanya mengandalkan cerita yang diwariskan secara turun-temurun. Diperlukan penelitian terhadap teks, manuskrip, bahasa, istilah, serta konteks sejarah yang melatarbelakangi lahirnya sebuah dokumen.

Salah satu pembahasan menarik adalah mengenai Jawa Dwipa atau Yavadvipa. Menurut narasumber, penyebutan Yavadvipa telah ditemukan dalam tradisi tekstual India. Dalam salah satu tradisi yang berkaitan dengan Ramayana, Yavadvipa digambarkan sebagai wilayah kaya sumber daya alam dan disebut memiliki tujuh raja.

Penyebutan tersebut menjadi data penting untuk melihat bagaimana kawasan yang dikaitkan dengan Jawa telah dikenal dalam cakrawala pengetahuan India sejak masa awal.

Namun secara akademik, identifikasi Yavadvipa secara langsung dengan Pulau Jawa masih harus dikaji kritis. Para ahli masih memperdebatkan konteks geografis istilah tersebut dan proses penyusunan serta penyalinan teks dari masa ke masa.

Dari pembahasan Jawa Dwipa, seminar berkembang ke persoalan yang lebih luas, yakni bagaimana hubungan berbagai tradisi dan bahasa dapat membentuk pengetahuan mengenai Nusantara. Pendekatan Filologi Judeo-Arab-Jawa menjadi penting karena tidak hanya melihat satu sumber, tetapi membandingkan berbagai tradisi tekstual untuk mengetahui bagaimana sebuah informasi muncul, berkembang, dan diwariskan.

Suasana seminar semakin semarak saat sesi tanya jawab. Peserta tampak antusias dan kritis. Tidak sedikit pertanyaan mengarah pada persoalan yang tengah viral di publik, terutama mengenai Ba'alawi, nasab keturunan Nabi Muhammad SAW, Tarim di Hadramaut, serta istilah Habib.

Prof. Dr. Menachem Ali menjelaskan bahwa dalam kajian filologi, persoalan nasab harus dikembalikan kepada data dan sumber sejarah. Sebuah klaim tidak cukup hanya berdasarkan pengakuan, cerita lisan, ataupun tradisi keluarga, tetapi perlu ditelusuri melalui sumber tertulis, usia manuskrip, bahasa, penulis, proses penyalinan, serta kesinambungan informasi antarsumber.

Dalam konteks Ba'alawi, terdapat tradisi nasab yang menghubungkan garis keturunan hingga Ahmad al-Muhajir dan selanjutnya kepada keturunan Nabi Muhammad SAW. Namun sejumlah mata rantai dalam silsilah tersebut juga menjadi objek perdebatan dalam kajian akademik.

"Pertanyaannya bukan hanya siapa yang mengaku keturunan siapa. Tapi sumber tertua apa yang mencatatnya, kapan ditulis, bagaimana teks diwariskan, dan apakah sesuai dengan sumber lain," tegas Prof. Menachem.

Pembahasan mengenai Tarim dan Hadramaut juga menjadi bagian menarik. Peserta mencoba menghubungkan sejarah kawasan tersebut dengan perkembangan tradisi nasab dan penyebaran keturunan Arab ke berbagai wilayah, termasuk Nusantara.

Narasumber mengajak peserta agar tidak terjebak pada perdebatan di media sosial. Setiap informasi harus diuji melalui teks, manuskrip, bahasa, konteks sejarah, serta perbandingan sumber.

Dengan metode tersebut, filologi bukan untuk membenarkan atau menyalahkan suatu kelompok. Filologi menjadi alat untuk mengetahui bagaimana sebuah teks terbentuk, bagaimana informasi diwariskan, serta sejauh mana sebuah informasi memiliki dasar dokumenter yang dapat dipertanggungjawabkan.

Seminar Nusantara di Ketitang Lor ini akhirnya tidak hanya membicarakan sejarah Jawa Dwipa dan hubungan Nusantara dengan dunia luar, tetapi juga mengajak masyarakat memahami bahwa sejarah, nasab, dan perjalanan peradaban membutuhkan penelitian yang serius.

Dari Jawa Dwipa, Yavadvipa, tradisi India, hingga manuskrip Judeo-Arab dan Jawa, seluruhnya menjadi bagian dari upaya menelusuri kembali jejak panjang sejarah Nusantara berdasarkan data dan kajian filologi.

Tim Redaksi Suara Mitra News

Redaksi suaramitranews

Kontak kami untuk informasi dan kerjasama

Email

Telepon

suciono@suaramitra.com

085741995002

© 2026. All rights reserved.

suaramitra2@gmail.com

Info Iklan