Sinergi TNI, Pemkot Jakbar dan Cimory Cegah Stunting 400 Balita di Tambora dan Cengkareng
8/16/20262 min read


Searah jarum jam: Syaulia dari Puskesmas Tambora, dr. Endang, Analisis Kebijakan Muda Bagian Kesra Pemkot Jakarta Barat, dan dr. Mona Kapolkes Kodim 0503 / Jakarta Barat, saat menjadi narasumber podcast sinergi pencegahan stunting di Studio TNI AD, Jakarta Barat. (Foto: Kodim 0503 Jakarta Barat. dok. Suara Mitra News / Istimewa)
JAKARTA BARAT – Suara Mitra News - Upaya menekan angka stunting di wilayah Jakarta Barat diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor. Kodim 0503/Jakarta Barat, Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Barat dan PT Cimory Tbk menjalankan program intervensi gizi bagi 400 balita di wilayah binaan Koramil 02/Tambora dan Koramil 04/Cengkareng.
Program yang dimulai sejak 23 Juli 2026 tersebut direncanakan berlangsung selama tiga bulan. Bantuan berupa susu dan telur diberikan kepada balita sasaran, dengan distribusi melibatkan Babinsa, kelurahan, kader Posyandu dan Puskesmas.
Sebanyak 200 balita berada di wilayah Koramil 02/Tambora, meliputi Kelurahan Pekojan dan Kalianyar. Sementara 200 balita lainnya berada di wilayah Koramil 04/Cengkareng, khususnya Kelurahan Kapuk.
Kolaborasi Jadi Kekuatan Utama
Program ini menjadi contoh penanganan gizi anak yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah memiliki kewenangan dan jaringan pelayanan publik, TNI memiliki struktur kewilayahan, tenaga kesehatan melakukan pemantauan, sedangkan sektor swasta mendukung pemenuhan kebutuhan.
Hj. Endang, Analis Kebijakan Muda Bagian Kesra Setko Administrasi Jakarta Barat, menyebut program tersebut merupakan bentuk kerja sama tiga unsur.
“Program ini merupakan kerja sama antara Kodim 0503 Jakarta Barat, Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Barat, dan PT Cimory,” ujar Hj. Endang.
Menurutnya, kolaborasi seperti ini penting karena penanganan gizi membutuhkan kerja terkoordinasi dari tingkat kota hingga lingkungan masyarakat.
Distribusi Langsung ke Rumah
Pelaksanaan program dilakukan langsung di wilayah. Telur bantuan diambil Babinsa dari Markas Kodim untuk kemudian dimasak di tingkat kelurahan.
Setelah makanan disiapkan, Babinsa bersama staf kelurahan dan kader Posyandu mengantarkannya ke rumah keluarga balita penerima manfaat.
Pola distribusi tersebut membuat program lebih dekat dengan masyarakat. Selain memastikan bantuan sampai sasaran, petugas juga dapat berkomunikasi langsung dan mengetahui kondisi keluarga penerima manfaat.
Data penerima manfaat dicatat berkala oleh kader Puskesmas setempat. Pendataan itu diperlukan untuk mengetahui perkembangan dan menjadi bahan evaluasi selama program berlangsung.
Kesehatan Anak Jadi Prioritas
dr. Mona, Kapolkes Kodim 0503/Jakarta Barat, menegaskan pentingnya kegiatan tersebut untuk mendukung kesehatan balita.
“Kegiatan ini menekan angka gizi buruk, meningkatkan kesehatan dan kecerdasan balita, sekaligus menjadi bukti nyata kehadiran pemerintah di tengah masyarakat,” tegas dr. Mona.
Pemberian makanan bergizi diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi anak. Namun, intervensi gizi tetap harus beriringan dengan pemeriksaan kesehatan, pemantauan pertumbuhan serta edukasi kepada keluarga.
Karena itu, keberadaan Puskesmas dan Posyandu menjadi bagian penting. Data dan pemantauan dari tenaga kesehatan dapat membantu menentukan langkah lanjutan bagi anak yang membutuhkan perhatian lebih.
Petakan Wilayah “Red Zone”
Pemkot Jakarta Barat bersama jajaran Puskesmas juga akan terus memetakan wilayah yang memiliki potensi kerawanan gizi atau “red zone”.
Pemetaan diharapkan menjadi dasar penentuan wilayah prioritas. Dengan data akurat, intervensi dapat diarahkan kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
Langkah ini memperkuat pola penanganan berbasis wilayah. Artinya, setiap lingkungan mendapat pendekatan sesuai kondisi dan kebutuhan masyarakatnya.
Program intervensi gizi ini bukan hanya tentang pemberian susu dan telur. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap masa depan anak-anak Jakarta Barat.
TNI AD melalui Kodim dan Babinsa, Pemkot melalui jajaran pemerintahan dan kesehatan, serta PT Cimory melalui dukungan sektor swasta memiliki peran saling melengkapi.
Sinergi tersebut diharapkan terus dipertahankan setelah program tiga bulan selesai. Sebab, pencegahan stunting membutuhkan konsistensi dan tidak bisa hanya lewat satu kegiatan.
Ketika pemerintah, aparat kewilayahan, tenaga kesehatan, masyarakat dan dunia usaha berjalan satu arah, persoalan gizi anak dapat ditangani lebih cepat, terukur dan tepat sasaran.
Empat ratus balita penerima manfaat menjadi bagian dari ikhtiar besar: membangun generasi yang sehat, cerdas dan memiliki masa depan lebih baik.
Suara Mitra News — Bersinergi, peduli, dan hadir bersama masyarakat.
(Ismail/hs.red.16.8/Suaramitranews)
