Wasiat Guru Menjadi Nyata, Majlis Nurul Bahar wa Nashor Rintis Pesantren Gratis untuk Anak Jalanan di Pekalongan
8/10/20264 min read


Ustadz Wildan Purna Irawan bersama seorang kiai sepuh dalam sebuah acara pengajian. (Foto: Suara Mitra News).
PEKALONGAN, Suara Mitra News – Sebuah pesan dari seorang guru lima tahun silam kini mulai diwujudkan dalam gerakan dakwah dan pendidikan keagamaan di Kota Pekalongan. Pesan tersebut sederhana, namun memiliki makna mendalam.
"Wis Dan, kon ora usah sibuk luru dunia trus laka entenge. Wis gawe pondok pa majlis bae. Mulang ngaji bae. Ngko dunia merek dewek." Petuah dalam bahasa Jawa tersebut kurang lebih bermakna, agar tidak terlalu sibuk mengejar urusan dunia dan mulai membangun pondok atau majelis untuk mengajarkan ilmu agama. Pesan itu disampaikan almarhum KH Ali Mas’ud bin Abdullah, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda, Moga, Pemalang.
Bagi Wildan Purna Irawan, pesan tersebut bukan sekadar nasihat. Ia memandangnya sebagai amanah yang harus dijalankan. "Saya jawab sami'na wa atho'na. Karena kami percaya, jika urusan akhirat didahulukan, maka urusan dunia pun akan ikut beres atas izin-Nya," tutur Wildan. Dari semangat itulah Majlis Nurul Bahar wa Nashor lahir pada 11 Maret 2020.
Berawal dari Dua Latar Belakang Berbeda
Majlis Nurul Bahar wa Nashor didirikan oleh dua sosok dengan perjalanan hidup yang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama dalam dakwah dan pendidikan Islam. Wildan Purna Irawan merupakan seorang santri yang pernah menimba ilmu di sejumlah pesantren, di antaranya Ponpes Mukhul Ibadah Bandung, Ponpes Nurul Huda Moga, serta Ponpes Sunan Drajat Lamongan. Sementara itu, Yosie Fredi memiliki perjalanan spiritual sebagai seorang mu’alaf.
Sebelum mendirikan majelis, keduanya terlebih dahulu menjalani tradisi para santri dengan sowan kepada guru dan ulama untuk meminta doa serta restu. Salah satunya dilakukan dengan bersilaturahmi kepada Abuya M. Iqbal, pengasuh Ponpes Mukhul Ibadah Banjaran Cihamerang, Bandung. Dalam kesempatan tersebut, Wildan juga menerima ijazah Kitab Sirrul Jalil karya Syekh Abil Hasan Asy-Syadzili.
Perbedaan latar belakang tersebut justru menjadi kekuatan bagi keduanya untuk membangun dakwah yang terbuka bagi berbagai kalangan. "Kami ingin merangkul semua kalangan. Mulai dari mereka yang sudah mondok sejak kecil, hingga saudara-saudara kita yang baru belajar merintis jalan hijrah," ujar Wildan.
Logo Penuh Makna
Dalam membangun majelis, visi dan misi tidak hanya dituangkan melalui kata-kata, tetapi juga melalui sebuah lambang yang memiliki filosofi tersendiri. Sebelum menentukan konsep logo, kedua pendiri terlebih dahulu melakukan istikharah. Logo tersebut kemudian dirancang bersama seorang sahabat mu’alaf di Karawang. Bentuk segitiga dimaknai sebagai simbol kekuatan, stabilitas, dan keseimbangan.
Sementara kitab dan pena bulu menggambarkan semangat untuk terus membaca, menggali, mencatat, memahami, serta mengamalkan ilmu. Di dalamnya juga terdapat kalimat tauhid, Hasbunallah wa ni'mal wakil, yang memiliki makna bahwa Allah SWT merupakan sebaik-baik penolong. Sedangkan sembilan bintang yang melingkar menjadi simbol semangat meneruskan estafet dakwah Islam yang diwariskan para Wali Songo.


Pengurus dan jamaah Majlis Nurul Bahar wa Nashor berfoto bersama usai kegiatan keagamaan. Kebersamaan dan semangat memperkuat dakwah, pendidikan Islam, serta ikhtiar mewujudkan pesantren gratis bagi anak-anak di Kota Pekalongan. (Foto: Suara Mitra News).
Pendidikan Agama Gratis
Salah satu hal yang menjadi perhatian Majlis Nurul Bahar wa Nashor adalah akses pendidikan agama bagi masyarakat. Majelis ini berkomitmen memberikan pembelajaran secara gratis kepada para santri. Ilmu agama ditempatkan sebagai fondasi utama. Para santri juga diarahkan untuk membangun kedekatan dengan Al-Qur'an melalui kegiatan mengaji dan mengkhatamkan bacaan Al-Qur'an.
Semangat tersebut berlandaskan hadis Rasulullah SAW:
"Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya."
Hadis riwayat Imam Bukhari tersebut menjadi salah satu landasan dalam mengembangkan semangat belajar dan mengajarkan Al-Qur'an. Namun, cita-cita Majlis Nurul Bahar wa Nashor tidak berhenti pada kegiatan majelis.
Ada sebuah mimpi besar yang ingin diwujudkan, yakni mendirikan pondok pesantren gratis yang diperuntukkan khusus bagi anak-anak jalanan dan mereka yang membutuhkan akses pendidikan agama.
Di pesantren tersebut nantinya diharapkan para santri mendapatkan pendidikan keislaman secara komprehensif. Materi yang direncanakan antara lain Nahwu, Shorof, Tafsir, Fiqih, dan Tauhid.
Pendidikan tersebut diharapkan tidak hanya membentuk santri yang memahami ilmu agama, tetapi juga memiliki akhlak dan adab dalam kehidupan sehari-hari.
Ilmu dan Adab
Bagi Majlis Nurul Bahar wa Nashor, ilmu dan adab merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
Sebab ilmu menjadi dasar seseorang memahami bagaimana menjalani kehidupan, sementara adab menjadi cermin dalam mengamalkan ilmu tersebut.
"Harapan kami sederhana namun bermakna besar. Semoga dari majelis ini lahir generasi santri yang tidak hanya pintar mengaji, tetapi juga memiliki keluhuran adab, sehingga kelak mampu menjadi lentera penolong bagi umat," pungkas Wildan.
Cita-cita tersebut menjadi perjalanan panjang yang membutuhkan dukungan berbagai pihak. Bukan hanya berupa materi, tetapi juga doa, tenaga, kepedulian, serta dukungan masyarakat terhadap pendidikan anak-anak dan generasi muda.
Majlis Nurul Bahar wa Nashor berharap gerakan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya bersama menghadirkan ruang belajar agama yang terbuka dan terjangkau bagi siapa saja.
Terutama bagi anak-anak yang selama ini belum memiliki kesempatan memperoleh pendidikan agama secara layak.
Lokasi dan Informasi
Majlis Nurul Bahar wa Nashor memiliki sekretariat di Perum Limas, Jalan Piramida RT 01/RW 18, Kelurahan Krapyak, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan.
Sementara asrama atau lokasi kegiatan berada di Jalan Truntum, Klego Gang 2/3, RT 01/RW 10, Kelurahan Klego, Kecamatan Pekalongan Timur, Kota Pekalongan.
Dari sebuah nasihat seorang guru, lahirlah sebuah amanah. Dari amanah itu, tumbuh sebuah majelis. Dan dari majelis tersebut, kini hadir sebuah cita-cita besar: menghadirkan pendidikan agama gratis sekaligus membuka jalan masa depan bagi anak-anak yang membutuhkan.
Sebab bagi mereka, dakwah bukan hanya tentang menyampaikan ilmu, tetapi juga tentang menghadirkan manfaat bagi sesama.
Ilmu menjadi bekal, adab menjadi jalan, dan pengabdian menjadi tujuan.
(Sugi NurZaki/hs.red.10.8/Suaramitranews)
